Jerigen-Jerigen di Garasi Pejabat: Pamer Kekayaan, Luka Kolektif Rakyat Gayo Lues

SOROT KASUS

- Redaksi

Rabu, 22 Juli 2026 - 12:24 WIB

5088 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES |  Di sebuah sudut garasi kalangan elite Gayo Lues, deretan jerigen biru dan kuning bersandar rapi di samping mobil mewah. Deretan jerigen itu diunggah sendiri ke publik oleh sang anak pejabat, disertai keterangan enteng: “Papaku beli minyak 15 jirigen.” Barangkali, sang anak tidak pernah merasakan getirnya antrean BBM yang dialami rakyat kecil, atau sesak dada para sopir angkutan desa yang pulang dengan tengki kosong karena stok sudah ditimbun mereka yang berkuasa.

Ini bukan pameran kekayaan biasa. Foto-foto jerigen itu menabuh genderang ironi baru di atas tanah yang nyaris saban tahun dihantam bencana, diterpa harga sembako melonjak, dan diwarnai kegagalan pemerintah mengatur distribusi BBM bersubsidi secara adil. Di tengah keresahan warga yang berulang kali menumpuk kartu antrean di SPBU dan para petani yang gagal mengolah lahan karena solar tak kunjung tiba, temuan penimbunan BBM di rumah seorang pejabat aktif merupakan tamparan telak bagi keadilan sosial negeri ini.

Keterangan santai sang anak hanya menambah perih. Dalam unggahan lain di media sosial, sang anak menantang netizen mengadu segala hal: kekayaan, pendidikan, keluarga, bahkan pasangan. Publik Gayo Lues pun membalas dengan kegeraman kolektif. Bagaimana tidak, dalam waktu sama pemerintah daerah keluarkan surat edaran resmi melarang keras penimbunan dan pembelian BBM subsidi di luar hak dan aturan. Tertera jelas: pengisian jerigen dilarang, batas pembelian diatur ketat, dan pelanggar diancam sanksi, bahkan pidana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tapi peraturan tinggal peraturan. Di balik stempel formal dan tanda tangan pejabat daerah, perilaku di rumah mereka sendiri sama sekali tak nyambung dengan narasi keadilan yang dijual ke rakyat. Sementara pemilik mobil-mobil mewah bisa meraup belasan jerigen BBM bersubsidi dengan mudah, iring-iringan rakyat kecil di SPBU pulang dengan tangan hampa atau membayar lebih ke pengecer gelap. Semua ini berlangsung sembari keluarga pejabat menikmati liburan ke luar negeri, memesan mobil baru, dan mengumbar kemewahan tanpa malu di ruang digital yang bisa diakses siapa pun—walau rakyat jelata sedang mengencangkan ikat pinggang demi sebotol bensin.

Kejanggalan makin menyeruak ketika tak ada satu pun klarifikasi atau tanggapan tegas dari sang pejabat, baik sebagai orang tua maupun pengemban jabatan publik. Pemerintah daerah—yang baru saja menebar janji penertiban distribusi BBM—bisu. Polisi pun tak terlihat sigap menyelidiki benarkah BBM dalam jerigen itu adalah bahan bakar bersubsidi, pakai jalur siapa, dan untuk kepentingan apa.

Jika benar BBM bersubsidi sengaja ditimbun rumah pejabat, situasi ini membuka selubung gelap perdagangan gelap BBM yang diamini kekuasaan lokal. Mengingat banyak kasus mafia minyak kecil yang justru berakhir di meja hijau, publik tidak buta bila penindakan hanya menyasar rakyat, bukan keluarga elite yang jelas-jelas terang-terangan melanggar aturan.

Sorotan tajam masyarakat Gayo Lues bukan sekadar protes terhadap aksi pamer di media sosial, tapi lontaran kemarahan terhadap keroposnya sistem pengawasan BBM, pembiaran tata kelola subsidi yang sebenarnya milik orang banyak, dan laku pejabat publik yang jauh dari rasa malu apalagi empati. Ketika keadilan hukum hanya tajam ke bawah, komunitas digital dan nyata pun bergerak. Gelombang desakan transparansi, investigasi independen, dan sanksi tegas terus menguat.

Jerigen-jerigen di garasi pejabat hari ini bukan sekadar simbol rakus segelintir elit. Ia adalah luka kolektif soal kemiskinan struktural, pengkhianatan amanat, dan buruknya teladan aparatur. Jika pemerintah dan aparat penegak hukum kembali menutup telinga, rakyat Gayo Lues hanya akan semakin yakin: keadilan yang dijanjikan hanya cerita palsu, sementara bensin murah untuk rakyat akan tetap menjadi dagangan mewah di tangan mereka yang berkursi tinggi. (*)

Berita Terkait

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Ringkus Dua Pelaku Penyalahgunaan Sabu, Pemasok Masih Diburu
Hari Bhayangkara Ke-80, Kapolres Gayo Lues: Tingkatkan Pelayanan Terbaik Kepada Masyarakat
Satresnarkoba Polres Gayo Lues Tangkap Pengedar Sabu, Amankan 19 Paket Narkotika Seberat 4,34 Gram
BPJN 3.4 Gerak Cepat Tangani Longsor di Ruas Jalan Nasional Blangkejeren–Aceh Tenggara
Kapolres Gayo Lues Pimpin Sertijab Sejumlah Pejabat Utama, Tekankan Peningkatan Pelayanan kepada Masyarakat
Desakan Menguat ke Polda Aceh dan Mabes Polri, Aktivitas Ilegal PT Hopson Diminta Segera Dihentikan
Ketika Regulasi Tak Lagi Bermakna di Hadapan PMA
PT Hopson Tetap Produksi Meski Dilarang, Masyarakat Pertanyakan Siapa yang Sebenarnya Berkuasa di Lapangan

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 04:59 WIB

Tak Butuh Waktu Lama, URC Satreskrim Polres Aceh Tenggara Amankan Pelaku Curi Motor

Rabu, 9 September 2026 - 08:06 WIB

Polres Agara Musnahkan Narkotika Hasil Pengungkapan Kasus, Bupati Apresiasi Kinerja Polres Aceh Tenggara

Selasa, 8 September 2026 - 11:32 WIB

Knalpot Brong Mengusik Kenyamanan, Polres Aceh Tenggara Tegaskan Knalpot Brong Bakal Ditindak

Minggu, 6 September 2026 - 06:22 WIB

Usut Dugaan Penyelewengan Dana Desa 2021-2025, LSM KOMPAK Kembali Investigasi Desa Ukhat Peseluk

Sabtu, 5 September 2026 - 13:48 WIB

Unit PPA Satreskrim Polres Aceh Tenggara Serahkan Tersangka dan Barang Bukti Perkara Tindak Pidana mengakibatkan Korban Meninggal ke Kejaksaan

Jumat, 4 September 2026 - 09:07 WIB

LSM KOMPAK Aceh Tenggara Desak APH Usut Dugaan Penyimpangan Dana Desa Ukhat Peseluk 2021-2025

Kamis, 3 September 2026 - 14:53 WIB

DIDUGA PERAGAKAN ADEGAN TIDAK SENONOH SAAT MAKAN ES KRIM, OKNUM TENAGA KESEHATAN PUSKESMAS MAMAS VIRAL

Minggu, 30 Agustus 2026 - 13:57 WIB

Proyek Irigasi APBN Rp195 Juta Desa Darul Imami kecamatan Bukit tusam Kab Aceh Tenggara Dipertanyakan

Berita Terbaru