Proyek Irigasi APBN Rp195 Juta Desa Darul Imami kecamatan Bukit tusam Kab Aceh Tenggara Dipertanyakan

REDAKSI AGARA

- Redaksi

Minggu, 30 Agustus 2026 - 13:57 WIB

5024 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH TENGGARA, 30 Agustus 2026 — Proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) senilai Rp195 juta di Aceh Tenggara menuai sorotan. Persoalannya bukan sekadar pekerjaan fisik di lapangan, melainkan ketidaksesuaian antara informasi pada papan proyek dan kondisi yang ditemukan.

Proyek yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 itu berada di bawah pengelolaan Balai Wilayah Sungai Sumatera I, Kementerian Pekerjaan Umum. Sejumlah pihak mempertanyakan lokasi pekerjaan, siapa pelaksananya, serta mengapa informasi mengenai volume dan spesifikasi pekerjaan tidak dicantumkan secara terbuka.


Berdasarkan papan informasi proyek, pekerjaan tercatat berlokasi di Desa Darul Imami, Kecamatan Bukit Tusam. Pelaksananya disebut Kelompok Tani P3A Darul Imami Sejahtera. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) tercantum bertanggal 19 Juni 2026 dengan masa pelaksanaan 90 hari kalender.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, hasil penelusuran di lapangan menunjukkan adanya persoalan lokasi yang perlu dijelaskan. Pekerjaan fisik ditemukan di wilayah Kecamatan Bukit Tusam. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan apakah telah dilakukan perubahan lokasi secara resmi, dan jika benar, apakah perubahan itu dituangkan dalam dokumen administrasi atau addendum.

Pertanyaan lain muncul mengenai pelaksana pekerjaan. Sejumlah informasi di lapangan menyebut pekerjaan diduga tidak dikerjakan langsung oleh anggota kelompok penerima sebagaimana tercantum dalam dokumen, melainkan oleh pihak lain.

Jika informasi tersebut benar, mekanisme pelaksanaan proyek patut diperiksa. Apakah pekerjaan dikerjakan secara swakelola sebagaimana ketentuan program, atau telah dialihkan kepada pihak ketiga? Jawabannya penting karena proyek tersebut menggunakan dana negara.
Keanehan juga terlihat pada papan informasi. Nilai anggaran Rp195 juta memang dicantumkan, tetapi tidak terlihat rincian jenis pekerjaan, volume, spesifikasi teknis, maupun satuan harga.

Ketiadaan data tersebut membuat publik kesulitan mengukur apakah nilai pekerjaan sebanding dengan hasil fisik yang dikerjakan. Dari sinilah ruang kecurigaan dapat terbuka, termasuk dugaan penggelembungan anggaran. Namun, dugaan itu tentu perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dokumen kontrak, rincian anggaran biaya, volume pekerjaan, serta hasil pengukuran di lapangan.

Sejumlah aktivis lembaga swadaya masyarakat meminta persoalan ini tidak berhenti pada temuan lapangan. Mereka mendorong Balai Wilayah Sungai Sumatera I melakukan klarifikasi dan pemeriksaan menyeluruh terhadap administrasi serta pelaksanaan proyek.

Dinas terkait di daerah juga diminta memberikan penjelasan mengenai status pekerjaan tersebut. Apakah proyek itu tercatat dalam koordinasi pemerintah daerah, apakah lokasinya sesuai dengan usulan awal, dan siapa sebenarnya pihak yang bertanggung jawab melaksanakan pekerjaan.

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting karena proyek P3-TGAI menggunakan anggaran negara. Publik berhak mengetahui ke mana dana Rp195 juta tersebut mengalir dan berapa volume pekerjaan yang dibangun.

Jika terdapat perubahan lokasi, perubahan pelaksana, atau pola pengerjaan yang tidak sesuai dengan ketentuan, hal itu semestinya dapat dijelaskan melalui dokumen resmi. Sebaliknya, jika seluruh proses telah sesuai aturan, transparansi dokumen akan menjadi cara paling sederhana untuk menghapus keraguan.

LSM meminta aparat pengawasan dan instansi berwenang tidak sekadar melihat hasil fisik. Dokumen perencanaan, penetapan penerima, SPMK, RAB, volume pekerjaan, bukti pembayaran, hingga mekanisme pelaksanaan perlu diperiksa.

Sebab, dalam proyek yang dibiayai APBN, persoalannya bukan hanya apakah bangunan irigasi berdiri. Yang tak kalah penting adalah apakah setiap rupiah anggaran dapat dipertanggungjawabkan. (Tim)

Berita Terkait

Kobarkan Semangat Persatuan, Kapolres Aceh Tenggara Pimpin Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-98
Respons Informasi Warga, Polres Aceh Tenggara Ungkap Penanaman Ganja di Ketambe
Tak Hanya Menegakkan Hukum, Kapolres Aceh Tenggara Perkuat Pendidikan Lewat Program POLIDIK
Respons Cepat Polsek Bambel, Pantau Luapan Sungai Lawe Tuban dan Tanggul Jebol di Lawe Kisam
Kapolres Aceh Tenggara diwakili Wakapolres, Terjun Langsung Laksanakan Strong Point Bersama Personel
Tokoh Masyarakat Aceh Tenggara Sesalkan Klarifikasi Muslim Soal Kesepakatan Hutan Kawasan TNGL: “Sama Halnya Memasang Tali Gantungan ke Leher Petani”
Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Seorang Perempuan dengan 34 Paket Sabu
LSM Kompak Aceh Tenggara: Sepakat Jaga Leuser, Tapi Jangan Lupakan Rakyat!

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:39 WIB

Kobarkan Semangat Persatuan, Kapolres Aceh Tenggara Pimpin Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-98

Selasa, 27 Oktober 2026 - 03:46 WIB

Respons Informasi Warga, Polres Aceh Tenggara Ungkap Penanaman Ganja di Ketambe

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:19 WIB

Tak Hanya Menegakkan Hukum, Kapolres Aceh Tenggara Perkuat Pendidikan Lewat Program POLIDIK

Senin, 26 Oktober 2026 - 10:12 WIB

Respons Cepat Polsek Bambel, Pantau Luapan Sungai Lawe Tuban dan Tanggul Jebol di Lawe Kisam

Jumat, 23 Oktober 2026 - 08:16 WIB

Tokoh Masyarakat Aceh Tenggara Sesalkan Klarifikasi Muslim Soal Kesepakatan Hutan Kawasan TNGL: “Sama Halnya Memasang Tali Gantungan ke Leher Petani”

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:11 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Seorang Perempuan dengan 34 Paket Sabu

Kamis, 22 Oktober 2026 - 04:46 WIB

LSM Kompak Aceh Tenggara: Sepakat Jaga Leuser, Tapi Jangan Lupakan Rakyat!

Rabu, 21 Oktober 2026 - 08:01 WIB

Rencana Penumbangan Kebun Buat Resah, Petani Aceh Tenggara Desak Pihak TNGL Hormati Perjanjian 2014

Berita Terbaru